Rabu, 29 Mei 2019

Kepercayaan dari Ketidakpastian

Seperti biasa, Lisa duduk sendiri di pagi hari bersama ikan peliharaannya. Pagi itu angin begitu lembut berhembus. Udara segar yang menyelimuti dunia membuat hati Lisa tenang. Hati kecil yang menahan rasa rindu terpendam, rindu pada seorang pria bernama Rama. Ya, mereka adalah dua muda-mudi yang saling mencintai sejak SMA. Akibat tuntutan mencari ilmu, mereka harus berpisah. Lisa melanjutkan studynya ke luar kota, dan Rama tetap kuliah di dalam daerah.
Masih dalam nuansa fajar di pagi hari. Lisa tetap duduk sambil memberi makan ikan kesayangannya. Di tangan kiri terdapat sebuah foto antara Lisa dan Rama. Foto yang menampilkan kemesraan mereka sewaktu SMA. Begitu indah untuk di kenang. Namun terlalu pahit untuk dilupakan. Ketika masa SMA dahulu, tepatnya kelas 12, Lisa jatuh cinta pada seorang pria manis dengan kulit sawo matang. Setelah mereka sering berada dalan kelompok yang sama, membuat kedekatan mereka semakin terjalin hingga sampai ke jenjang pacaran.
Tiba-tiba handphone Lisa berdering, hallo Lisa, hari ini free kan? Makan di luar yuk, ajak seorang lelaki dengan suara sedikit berat. Lelaki tersebut adalah Yoga. Dia adalah teman Lisa satu jurusan di kampus. Maaf Yoga, hari ini aku mau mengerjakan tugas dengan Bella. Lain kali saja ya. Lisa langsung menutup telpon dari Yoga.
Dari awal semester, Yoga memang sudah mengejar cinta Lisa. Yoga sudah sempat menyatakan perasaannya kepada Lisa. Namun Lisa tidak bisa menjawab. Lisa masih berkomitmen kepada hubungannya dengan Rama. Tapi, di lubuk hati Lisa, terselip rindu yang teramat sangat pada Rama. Akhir-akhir ini Rama sangat sulit untuk dihubungi. Rama beralasan sibuk kuliah dan organisasi. Lisa yang memiliki sifat lemah lembut dan penurut, tidak ingin memperpanjang masalah.
Di sore hari, Lisa berangkat ke rumah Bella untuk kerja kelompok. Lokasi rumah Bella tidak terlalu jauh dari kost Lisa. Hanya berada di desa sebelah. 10 menit sampai dengan menggunakan motor.
Perrmisi, Bella, aku masuk nih
masuk aja Lis, anggap aja rumah sendiri, sahut Bella.
Bella dan Lisa sudah bersahabat ketika masa ospek di kampus. Bella yang memiliki sifat periang, membuat Lisa nyaman berteman dan sering dijadikan teman curhat.
Bagaimana hubunganmu dengan Rama, masih lost contact?
Ya begitu lah Bel, masih sama saja. Dia sibuk dengan kegiatannya terus.
Kamu masih percaya sama Rama, Lis? Salut aku sama dirimu
Ya begitu lah Bel, gumam Lisa.
Lisa hanya diam ketika Bella menanyakan hal itu. Tidak ingin menjawab. Karena Lisa orang yang komitmen terhadap janji yang mereka buat dulu. Walau ada Yoga yang siap menggantikan posisi Rama, yang selalu ada ketika Lisa butuh. Untungnya Yoga juga siap menunggu kapan Lisa membuka hati untuknya.
Ke esokan harinya, Yoga mengajak Bella untuk bertemu di sebuah cafe tanpa sepengetahuan Lisa.
Ada apa Yoga, kok tumben ngajak ketemuan.
Begini Bel, kamu kan tau aku sudah lama suka dengan Lisa, dan kamu sendiri teman baiknya Lisa. Disini aku mau minta bantuan kamu, ujar Yoga dengan raut muka serius.
Bantuin apa nih, tanya Bella.
Aku mau kamu bantuin aku agar Lisa melupakan pacarnya itu.
Haha, gilak kamu Yog. Tidak mungkin aku menghancurkan hubungan sahabat aku sendiri.
Please Bella, bantuin aku kali ini aja. Kamu tau sendiri kan Rama sudah tidak perduli lagi sama Lisa. Kalau kamu bener-bener sahabat Lisa, kamu pasti tidak akan membiarkan dia sedih setiap hari menunggu yang tidak pasti. Bisa saja Rama pacarnya itu selingkuh disana. Yoga benar-benar meyakinkan Bella. Bella pun sedikit berpikir sejenak.
Oke, aku akan bantu kamu. Tapi kamu jangan pernah mempermainkan sahabat aku Lis. Jika kamu mempermainkannya, aku cari kamu sampai ke lubang semut, cetus Bella dengan sedikit mengancam.
Setelah pertemuan Bella dengan Yoga malam itu, Bella mulai memikirkan rencana serta strategi. Bella berniat  membuat moment untuk Yoga menyatakan perasaannya yang kedua kali. Dengan persiapan kata-lata yang telah di susun sedemikian rupa, Bella mencoba untuk mengajak Lisa ke suatu tempat.
Lisa, nanti malqm jalan ke luar yuk, ajak Bella.
Mau kemana Bel?
Kemana aja lah, sekali-sekali refreshing kita dari tugas
Oke Bel, ide bagus tuh.
Dengan kepolosan Lisa, membuat Bella dengan mudah mengajak Lisa pada saat itu. Malam pun tiba, mereka berangkat ke suatu tempat. Tidak lupa Bella sudah janjian sebelumnya dengan Yoga untuk datang juga. Lisa culup terkejut melihat sebuah taman yang telah di dekor dengan sedemikian rupa indahnya. Terlihat tumbler di mana-mana di tambah dengan alunan biola yang di gesek oleh seorang pria bertopi ala sutradara. Bel, tempatnya indah banget, gumam Lisa yang takjub melihat keindahan taman tersebut.
Lisa, kamu duduk di kursi itu dulu ya, aku mau cari minum sebentar.
Jangan lama-lama ya Bel.
Oke, tidak sampai seminggu kok, canda Bella agar suasana sedikit mencair.
Bella pun pergi meninggalkan Lisa sendiri. Tidak lama kemudian Lisa yang duduk sendiri pun mendengar instrumen biola dengan lagu kesukaannya. Tiba-tiba mata Lisa tertutup oleh tangan seseorang. Lisa pun merasa bingung. Hei, siapa ini?, tanya Lisa bingung.
Lisa pun dituntun ke suatu tempat. Lantunan biola masih terdengar jelas dengan lagu kesukaan Lisa. Setelah jalan beberapa langkah akhirnya Lisa berhenti disuatu tempat. Tangan yang menutup mata Lisa pun akhirnya terlepas. Mata Lisa langsung terbelalak melihat keindahan yang ada di matanya. Dia sedang berdiri di tengah-tengah lilin membentuk love dengan potongan bunga mawar dibertaburan di dalamnya.
Ehem
Lisa mendengar suara batuk seseorang dibelakangnya. Dan seseorang tersebut adalah Yoga.
Yoga, kamu ngapain disini? Jangan bilang ini semua kamu yang merencanakan.
Kamu tidak perlu tau soal itu Lisa. Yang perlu kamu tau adalah hatiku selalu ada untukmu Lisa. Jelas Yoga sambil memegang tangan  Lisa.
Apaan sih Yog. Lisa mulai berontak. Namun karena genggaman tangan Yoga begitu kuat tak bisa Lisa berbuat banyak.
Lisa, sungguh aku sangat mencintaimu. Dulu kamu menolakku, namun aku tetap setia menunggumu.
Cukup Yoga, kamu tau kan, aku sangat mencintai Rama. Walau Rama tidak pernah memberi kabar padaku, tapi aku tetap setia padanya, dan aku gak akan pernah mengkhianatinya. Lisa yang bersuara lemah lembut kini sedikit menaikkan nada suaranya.
Kamu masih percaya dengan Rama yang kamu tunggu-tunggu itu! Dia sudah tidak peduli lagi dengan...
Plakk! Tamparan keras mendarat di wajah Yoga. Seketika lantunan biola yang merdu kini berhenti. Hanya suara desiran daun pohon dan jangkrik yang menemani.
Jangan pernah kamu menilai seseorang padahal kamu tidak tau apa-apa. Aku dan Rama telah berjanji untuk selalu bersama. Aku sangat mencintainya, begitu pun sebaliknya. Air mata pun menetes deras dari kelopak mata Lisa.
Lisa, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud...
Cukup Yoga, seberapapun usahamu, kamu tidak akan pernah memisahkanku dengan Rama!, ketus Lisa sambil tersedak-sedak akibat tangisnya.
Lisa pun pergi meninggalkan Yoga sendiri di taman itu. Yoga hanya diam saja tidak dapat menghentikan langkah Lisa. Malam itu menjadi malam yang sulit bagi Lisa sekaligus sebagai pembuktian sebuah cinta tulus dari seorang wanita lugu kepada pria atas dasar kesetiaan.
Ketika Bella kembali setelah membeli minum, dia sedikit bingung melihat Lisa pergi meninggalkan Yoga sambil menangis. Bella tidak dapat berkata apa-apa, hanya bisa mengejar langkah Lisa dan meninggalkan Yoga.
Begitu lah Lisa, seorang wanita lugu yang sangat percaya akan kekuatan cinta. Lisa berhasil membuktikan bahwa cinta akan bertahan hanya dengan kepercayaan. Walau ada sebuah hati yang baru, yang siap menggantikan sebuah hati yang tidak pasti. Namun, Lisa tetap yakin dan komitmen terhadap janji yang dahulu mereka buat untuk selalu bersama. Karena Tuhan memiliki skenario dalam menguji hamba Nya.














Kusampaikan Rindu

Hay, apa kabar cantik itu. Apakah cantik itu masih milikku. Cantik dari anugerah Tuhan, hingga aku dapat melihatnya dan memilikimu.
Hari ini aku ingin menyampaikan rindu, rindu yang telah menyesakkan dadaku. Sering sekali rindu ini kusampaikan padamu melalui senja. Dan juga angin yang bertiup ke tenggara. Tapi, aku tidak tau apakah pesan rindu itu sampai kepada pemilik rindu yang dituju.
Di pagi hari, aku sering duduk di luar sendiri. Sambil menatap ke langit yang masih bersih. Dengan sinar mentari perlahan menghangatkan tubuhku. Sungguh aku membayangkan hangat itu adalah hangatnya dari pelukanmu. Sesekali kupejamkan mata, berharap ketika aku membuka mata, kau hadir di depanku. Burung-burung pun tidak kalah gembiranya di pagi itu. Terbang kesana kemari saling bersahut-sahutan. Tanpa takut jatuh ke dalam dunia peraduan.

Ada apa denganmu?

Ada apa denganmu? Narasi yang kau lontarkan kala itu, kini terinjak oleh kakimu sendiri. Seharusnya kau bertanggung jawab atas apa-apa saj...